Pages

Labels

adaptif (21) normatif (5) produktif (9) umum (6)
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label normatif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label normatif. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 September 2016

AGAMA

PRESENTASI DENGAN JUDUL ETOS KERJA DALAM ISLAM

Pengertian dan Maksud Etos Kerja Islam (Muslim)

Kumpulan Contoh Makalah: Pengertian dan Maksud Etos Kerja Islam (Muslim). Etos Kerja Muslim - Pengertian, maksud, dan penjelasan etos kerja muslim (menurut/ dalam perspektif agama Islam).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, etos adalah pandangan hidup yangg khas dari suatu golongan sosial. Jadi, pengertian Etos Kerja adalah semangat kerja yg menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok. 

Etos berasal dari bahasa Yunani yang berarti sesuatu yang diyakini, cara berbuat, sikap serta persepsi terhadap nilai bekerja. Sedangkan Etos Kerja Muslim dapat didefinisikan sebagai cara pandang yang diyakini seorang muslim bahwa bekerja tidak hanya bertujuan memuliakan diri, tetapi juga sebagai suatu manifestasi dari amal sholeh dan mempunyai nilai ibadah yang luhur. 

Etos Kerja merupakan totalitas kepribadian diri serta cara mengekspresikan, memandang, meyakini, dan memberikan sesuatu yang bermakna, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal (high performance). 

Etos Kerja Muslim didefenisikan sebagai sikap kepribadian yang melahirkan keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu bukan saja untuk memuliakan dirinya, menampakkan kemanusiaannya, melainkan juga sebagai suatu manifestasi dari amal sholeh. Sehingga bekerja yang didasarkan pada prinsip-prinsip iman bukan saja menunjukkan fitrah seorang muslim, melainkan sekaligus meninggikan martabat dirinya sebagai hamba Allah yang didera kerinduan untuk menjadikan dirinya sebagai sosok yang dapat dipercaya, menampilkan dirinya sebagai manusia yang amanah, menunjukkan sikap pengabdian sebagaimana firman Allah, “Dan tidak Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”, (QS. adz-Dzaariyat : 56).

Bekerja adalah fitrah dan merupakan salah satu identitas manusia, sehingga bekerja yang didasarkan pada prinsip-prinsip iman tauhid, bukan saja menunjukkan fitrah seorang muslim, tetapi sekaligus meninggikan martabat dirinya sebagai hamba Allah SWT. 

Apabila bekerja itu adalah fitrah manusia, maka jelaslah bahwa manusia yang enggan bekerja, malas dan tidak mau mendayagunakan seluruh potensi diri untuk menyatakan keimanan dalam bentuk amal kreatif, sesungguhnya dia itu melawan fitrah dirinya sendiri, dan menurunkan derajat identitas dirinya sebagai manusia. 

Setiap muslim selayaknya tidak asal bekerja, mendapat gaji, atau sekedar menjaga gengsi agar tidak dianggap sebagai pengangguran. Karena, kesadaran bekerja secara produktif serta dilandasi semangat tauhid dan tanggung jawab merupakan salah satu ciri yang khas dari karakter atau kepribadian seorang muslim. 

Tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk menjadi pengangguran, apalagi menjadi manusii yang kehilangan semangat inovatif. Karena sikap hidup yang tak memberikan makna, apalagi menjadi beban dan peminta-minta, pada hakekatnya merupakan tindakan yang tercela. 

Seorang muslim yang memiliki etos kerja adalah mereka yang selalu obsesif atau ingin berbuat sesuatu yang penuh manfaat yang merupakan bagian amanah dari Allah. Dan cara pandang untuk melaksanakan sesuatu harus didasarkan kepada tiga dimensi kesadaran, yaitu : dimensi ma’rifat (aku tahu), dimensi hakikat (aku berharap), dan dimensisyariat (aku berbuat). 

Etos Kerja: Dimensi Ma’rifat (Aku Tahu)

  • Tahu siapa aku, apa kekuatan dan kelemahanku,
  • Tahu apa pekerjaanku,
  • Tahu siapa pesaingku dan kawanku,
  • Tahu produk yang akan dihasilkan,
  • Tahu apa bidang usahaku dan tujuanku,
  • Tahu siapa relasiku,
  • Tahu pesan-pesan yang akan kusampaikan

Etos Kerja: Dimensi Hakikat (Aku berharap)

Sikap diri untuk menetapkan sebuah tujuan kemana arah tindakan dilangkahkan. Setiap pribadi muslim meyakini bahwa niat atau dorongan untuk menetapkan cita-cita merupakan ciri bahwa dirinya hidup.

Etos Kerja: Dimensi Syariat (Aku Berbuat)

Pengetahuan tentang peran dan potensi diri, tujuan serta harapan-harapan hendaklah mempunyai arti kecuali bila dipraktikkan dalam bentuk tindakan nyata yang telah diyakini kebenarannya. 


Yang membedakan semangat kerja dalam Islam adalah kaitannya dengan nilai serta cara meraih tujuannya. Bagi seorang muslim bekerja merupakan kewajiban yang hakiki dalam rangka menggapai ridha Allah. Sedangkan orang kafir bermujahadah untuk kesenangan duniawi dan untuk memuaskan hawa nafsu. 

Di Jepang dikenal sebuah istilah Keizen yang dipelopori oleh Masaaki Imai, yakni: semangat untuk terus-menerus melakukan perbaikan yang melibatkan setiap orang mulai dari pimpinan puncak sampai pekerja lapangan.

Senin, 29 Agustus 2016

Matematika


Peluang

a.       Kaidah pencacahan

Sebelum kita mempelajari peluang terlebih dahulu kita mempelajari mengenai kaidah pencacahan, kaidah pencacahan adalah suatu cara untuk menghitung semua kemungkinan yang dapat terjadi dalam suatu percobaan  ada beberapa metode pencacahan yaitu :

Metode aturan pengisian tempat, metode permutasi dan metode kombinasi

1.       Aturan pengisian tempat

Contoh :

1.       Di sediakan himpunan angka {1,2,3,4,,5} jika akan di bentuk bilangan yang terdiri dari 2 angka berapa banyak bilangan yang dapat terbentuk apabila tidak boleh ada angka yang berulang  dan boleh berulang

Notasi factorial

                Perhitungan peluang suatu kejadian dapat di permudah bila kita memahamu notasi factorial misalnya n = bilangan asli makan => n factor yang = n!

Kamis, 25 Agustus 2016

MATERI AGAMA

Etos dalam bekerja
Setiap manusia diwajibkan untuk melakukan usaha dan berperilaku baik. Usaha yang dilakukan haruslah sungguh-sungguh dengan niat ikhlas. Tidak boleh setengah-setengah karena hasilnya tidak akan maksimal. Dalam Islam juga diwajibkan untuk berikhtiar dan tidak hanya pasrah. Allah akan memberikan karunia terhadap setiap usaha yang dikerjakan dan juga disertai dengan doa.

Rasulullah SAW bersabda: “bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.” Dalam ungkapan lain dikatakan juga, “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah, Memikul kayu lebih mulia dari pada mengemis, Mukmin yang kuat lebih baik dari pada muslim yang lemah. Allah swt.menyukai mukmin yang kuat bekerja.nyatanya kita kebanyakan bersikap dan bertingkah laku justru berlawanan dengan ungkapan-ungkapan tadi.

Dalam zaman yang modern ini, kita dituntut untuk selalu berusaha, tidak hanya rajin, tapi lebih dari itu, asalkan tidak melanggar dan melampaui batas – batas dalam Islam.Untuk itu, disini penulis akan memaparkan mengenai etos kerja secara lebih rinci.





Rabu, 03 Agustus 2016

Karya sastra
1.    Puisi
-      Lama : pantun
Syair
Gurindam
-      Baru
2.    Prosa
-      Cerpen ( cerita yang di baca sekali duduk bisa selesai)
-      Novel
-      Dongeng
-      Hikayat/kerajaan/lagenda/ cerita rakyat
3.    Drama
-      Antagonis
-      Protagonis
Unsur interinsik dan eksterinsik
1.    Tema = inti cerita
2.    Alur/plot = maju(masa depan), mundur(masa lalu), maju mundur(masa silang
3.    Latar/setting = waktu, tempat, suasana
4.    Amanah = pesan
5.    Penokohan = pelaku dan sifat
6.    Sudut pandang = kata ganti aku, kamu
7.    Gaya bahasa = mudah di pahami, susah di pahami
Tugas:
1.    Tema = majikan dan pembantu bego
2.    Alur/plot = maju mundur(masa silang
3.    Latar/setting = - waktu : pagi, siang, subuh-malam
-tempat : rumah, bandung, dapur, tetangga
-suasana : kesal, capek, kasihan, sakit hati
4.    Amanah = - jangan suka marah karena semua orang punya kesalahan
- jangan terlalu merendahkan pembantu
- sebagai majikan harus memaafkan kesalahan pembantunya, dan sebagai pembantu harus tahu diri
5.    Penokohan = (sitti = centil, pekerja keras, bego), (aku = pemarah), (evi, uci, ani = baik), (orang tua = baik
6.    Sudut pandang = aku
7.    Gaya bahasa = susah di pahami